Abel Camara Pilu Lihat Banyaknya Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan

Foto: Istimewa

Bomber asing Arema FC asal Guinea-Bissau Abel Issa Camara menjadi saksi dalam tragedi yang mengakibatkan 125 orang meninggal duniadi Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu, (01/10/2022).

Dalam laga itu tuan rumah Arema FC menelan kekalahan 2-3. Kekalahan itu menyebabkan beberapa suporter turun dan masuk ke lapangan. Petugas keamanan dari Polri dan TNI kemudian menghalau para suporter yang masuk ke lapangan itu.

Aparat kepolisian kemudian meletupkan senjata gas air mata ke arah penonton. Akibatnya massa panik menuju satu titik keluar. Banyak yang meninggal dunia karena terinjak injak penonton yang berebut untuk keluar stadion.

Kepada media Portugal, Maisfutebol, striker yang sudah mengkoleksi 4 gol selama membela panji Arema itu menceritakan suasana derby Jawa Timur itu sudah terasa di Kota Malang sepekan menjelang pertandingan menghadapi Persebaya.

Ia mendengar bahwa laga Arema FC melawan Persebaya dalam laga pekan ke-11 BRI Liga 1 2022/2023 sangat penting bagi warga Malang. Namun, ketika akhirnya tim berjuluk Singo Edan harus kalah, suasana stadion menjadi tidak kondusif. Dua golnya juga tak mampu menghindarkan Arema FC dari kekalahan di Kanjuruhan. 

“Ini adalah derby yang sangat lama dan selama seminggu sudah terasa di seluruh kota bahwa itu adalah pertandingan dengan lebih dari tiga poin. Mereka bilang ini adalah permainan hidup dan mati, bahwa kami bisa kalah dalam setiap pertandingan kecuali yang ini. Ada ketegangan di udara,” kata Abel Camara

Suporter turun ke lapangan dan memaksa petugas keamanan membawa para pemain Arema FC masuk ke ruang ganti. Di sana, para pemain Arema FC tak bisa lekas meninggalkan stadion karena di luar terjadi keributan. Empat jam skuad Singo Edan bertahan di ruang ganti.

Pada saat yang bersamaan, ruang ganti tim Arema FC berubah menjadi lokasi yang aman untuk menampung para korban yang lemas dan tak sadarkan diri akibat terkena gas air mata. Abel dan para pemain Arema FC pun akhirnya harus menjadi saksi bahwa ada sekitar delapan suporter yang meninggal di ruang ganti tersebut.

“Ini adalah derby yang sangat lama dan selama seminggu sudah terasa di seluruh kota bahwa itu adalah pertandingan dengan lebih dari tiga poin. Mereka bilang ini adalah permainan hidup dan mati, bahwa kami bisa kalah dalam setiap pertandingan kecuali yang ini. Ada ketegangan di udara,” kata Abel Camara.

“Setelah kami kalah, kami pergi untuk meminta maaf kepada para penggemar. Mereka mulai memanjat pagar, kami pergi ke ruang ganti. Sejak saat itu, kami mulai mendengar tembakan. Kami memiliki orang-orang di dalam ruang ganti yang terkena gas air mata dan meninggal tepat di depan kami. Kami memiliki sekitar tujuh atau delapan orang tewas di ruang ganti,” Tambahnya.

Setelah kerusuhan di Stadion Kanjuruhan mulai mereda, para pemain dan pelatih Singo Edan akhirnya diizinkan untuk keluar dari ruang ganti. Ketika keluar, Abel Camara melihat jejak kerusuhan yang masih berbekas seperti darah, sepatu, pakaian, hingga mobil-mobil yang terbakar.

“Ketika kami pergi, ketika semuanya lebih tenang, ada darah, sepatu kets, pakaian di seluruh aula stadion. Ketika kami meninggalkan stadion dengan bus, ada mobil sipil dan polisi yang terbakar, tetapi kami memiliki perjalanan yang mulus ke pusat pelatihan kami. Kami mengambil mobil dan pulang. Sekarang, kami berada di rumah, menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi,” tandasnya.

Tagged with: • • •

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *